Featured

0 Janji Suci!!! (part 1)

(Backpacker ke Bromo, 21-24 September 2012) 

Ke Bromo yuk? Ajak salah seorang teman, sebut saja Fitri Ramadhani Rosha. Awalnya kita (Tim KKN 63 UGM 2012) hanya menganggapnya angin lalu saja, tak pernah sedikitpun niat untuk ke Bromo saat itu. Lambat laun bukannya semakin padam, malah semakin menggebu-gebu niatan Fitri untuk ke Bromo. Usut punya usut ternyata ini terkait dengan tugas akademiknya, Riset? Kunjungan? Penelitian? Bukan. Tapi skripsi, loh apa hubungannya skripsi dengan ke Bromo? Apakah skripsinya tentang Bromo? Jelas bukan, karena Fitri mahasiswa tingkat akhir Jurusan Perikanan UGM, dan di gunung Bromo tidak ada ikan, apalagi nelayan hehe jadi tidak ada hubungannya.

Perjalan ini adalah sebuah Janji Suci bagi Fitri, dia telah berjanji setelah melakukan perjalanan ke Bromo akan benar-benar fokus pada tugas akademiknya, skripsi. Nah ini nih hubungannya antara Bromo dan Skripsi Fitri. Jadi semakin cepat ke Bromo, dia akan semakin cepat fokus skripsi, dan itulah kenapa Fitri begitu ngotot untuk ke Bromo. Setelah mengajak teman-teman KKN 63 UGM 2012 dalam beberapa kesempatan dan dalam setiap kesempatan. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan, dari 19 orang yang diajak, hanya 3 orang yang bersedia ikut dan akhirnya bersama-sama melakukan perjalanan ke Bromo, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur.

Selain Fitri, perjalanan ini juga diikuti oleh Muhammad Syukri, mahasiswa Hukum UGM yang lebih akrab kita sapa Uda karena asalnya dari Payakumbuh. Deddy Zulhandy, mahasiswa Psikologi UGM asal Palembang yang punya pemikiran unik dan yang terakhir adalah Akhmad Faizal Khabibi, mahasiswa Teknik UGM yang telah 3 tahun merantau di Jogja. Fitri, Uda, Deddy, dan Faizal pernah bekerja sama dan hidup bersama selama kurang lebih 1 bulan di pedalaman Papua, tepatnya di Kampung Yakati, Distrik Wamesa, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat dalam program KKN PPM UGM 2012. Dengan banyak hal yang telah dilalui dan hadapi bersama, kita sebut saja mereka #sodara (Fitri, Uda, Deddy, & Faizal).

Tidak seperti perjalanan pada umumnya yang melalui persiapan yang panjang dan matang, #sodara baru memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Bromo adalah satu hari sebelumnya. Yah sungguh mendadak, dan tentunya tidak bisa melakukan persiapan dengan matang, namun itulah yang seru. Pada malam hari sebelum keberangkatan, selepas halal bil halal KKN unit 63 di Jejamuran tepatnya, #sodara memutuskan untuk backpacker-an ke Bromo, kenapa? Jawabannya hanya dua dan sederhana, yaitu seru dan irit.

Setelah melakukan sedikit persiapan dan packing barang yang sekiranya dibutuhkan selama perjalanan. #sodara telah siap dengan perlengkapan masing-masing. Diantara #sodara, hanya Faizal yang menggunakan tas ransel biasa, lainnya menggunakan tas Carier yang memang dibuat untuk pendakian. Dan dibandingkan dengan ke-tiga temannya, Fitri membawa carier paling besar dan perlengkapan paling banyak, rempong sih, tapi wajarlah dia kan satu-satunya perempuan dalam rombongan ini jadi memang memerlukan hal-hal ekstra dibanding yang lain.

INILAH PERJALANAN #SODARA KE BROMO

“Kita naik kereta Gaya Baru Malam jam 21.40, ngumpul di lempuyangan jam 21.20 yaa sodaraa :D” sms Fitri dengan penuh antusias ke Deddy, Uda dan Faizal. Dengan tekad yang semakin membulat, bawaan yang telah tersemat, dan tiket yang sudah di tangan, #sodara berkumpul di stasiun Lempuyangan seperti yang di-sms Fitri. Deddy adalah orang pertama dari rombongan yang sampai di TKP, disusul Faizal, Uda dan Fitri.

Kereta ekonomi dengan tiket Rp 33.500,- ini akan menghantar #sodara hingga Surabaya. Ongkos tentunya menjadi alasan utama #sodara memilih menggunakan kereta GBM, murah, meriah, dan akan kau lihat salah satu wajah Indonesia di dalamnya. Di tiket tertera pkl.21.40 WIB adalah jadwal keberangkatan GBM dari stasiun Lempuyangan, namun tepat pkl. 21.40 WIB kereta belum juga tiba. “Yang tertulis tak semuanya terlaksana, keadaan ideal hanya dalam teori dan buku” gumam Faizal dalam hati. Sudah menjadi rahasia umum kalo kereta ekonomi pasti terlambat dari jadwal yang telah ditentukan, bahkan dibeberapa masyarakat telah terbentuk stigma “kalo gak telat ya bukan kereta ekonomi” tentu hal ini tidak baik dan tidak boleh dibiarkan berlarut dan berlanjut. Akhirnya sekitar pkl.22.05 WIB GBM yang akan menghantar #sodara ke Surabaya datang juga. Saat itu GBM tidak terlalu penuh, dan tak seramai biasanya. Semua penumpang mendapatkan tempat duduk, tidak ada yang berdiri. #sodara duduk di nomor 7 D-E dan 8 D-E gerbong 6, tepat dibelakang gerbong restoran. Dan untuk pertama kalinya Fitri tahu di dalam kereta sekelas GBM ada restorannya haha *kasihan, bahkan dia sempat kaget dan tak percaya saat Faizal bilang gerbong #sodara berada di belakang gerbong restoran.
Di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta
Harus diakui, sekarang pelayanan Kereta Api sudah lebih baik, kini tidak ada lagi penumpang berdiri, tiket harus sesuai kartu identitas (KTP) sehingga memaksa calo lebih kreatif mencari pekerjaan lain(semoga halal), tidak ada asap pembunuh(red-rokok) berterbangan dalam gerbong, dan tetap mempertahankan hiburan utamanya, yaitu pengamen dan asongan yang selalu setia menemani selama perjalan. Oh I Love Indonesia. Namun tentu saja banyak hal yang harus dikritisi dan diperbaiki demi Indonesia yang lebih baik, seperti masalah jadwal, kebersihan, kondisi kursi, jendela, kaca dan sebagainya.

Selama perjalanan bersama GBM, #sodara isi dengan ngobrol ngalor-ngidul, bercanda, saling membully dan ketawa-ketiwi ceria serta istirahat mengumpulkan tenaga untuk pendakian esok hari. Sekitar pkl.03.05 WIB pagi GBM sampai di stasiun Gubeng Surabaya dan akhirnya #sodara sampai di Surabaya. Ini adalah untuk pertama kalinya #sodara menginjakkan kaki di stasiun Gubeng, sempat bingung menentukan pintu utama dan muka stasiun yang hingga kini belum terjawab yang mana. Setelah melakukan tawar menawar dengan angkutan setempat untuk mengantarkan ke terminal dan tidak menemui kata sepakat, #sodara memutuskan untuk istirahat sejenak di sebuah warung dekat stasiun Gubeng dan akan melanjutkan perjalanan selanjutnya setelah sholat subuh.

Selepas sholat subuh di sebuah musholah samping warung, #sodara melanjutkan perjalanannya. Tempat yang harus dicapai berikutnya adalah Terminal Purabaya yang terdapat di daerah Bungur Asih, sempat terjadi perdebatan yang cukup sengit antara Faizal dan Deddy, akan nama terminal tersebut, apakah Purabaya atau Bungur Asih. Faizal kekeh dengan Purabaya dan Deddy tak mau kalah dengan Bungur Asih. Tidak ada yang salah dari mereka, secara administrasi terminal tersebut adalah Purabaya, namun masyarakat banyak mengenalnya dengan sebutan Bungur Asih. Untuk mencapainya dari stasiun Gubeng #sodara naik Len (angkot) hingga Wonokromo dengan ongkos Rp.3.000,- lalu dilanjutkan dengan naik Bus Kota jurusan Bungur, dari Wonokromo hingga terminal Purabaya #sodara harus merogoh kocek Rp.4.000 saja. Sekitar pkl.05.40 WIB pagi #sodara sampai di terminal Purabaya.

Terminal Purabaya adalah salah satu terminal terbaik dan terapih di Indonesia, semua berjalan teratur dan tertata rapih. Berbeda dengan terminal-terminal lain di Indonesia. Di terminal ini #sodara sempatkan untuk sarapan pagi sebelum melanjutkan perjalanan ke Probolinggo menggunakan Bus AKDP(Antar Kota Dalam Provinsi). Pkl.06.40 WIB #sodara beranjak ke Probolinggo menggunakan bus Indonesia Abadi jurusan Banyuwangi dengan ongkos Rp.17.000,-. Seharusnya hanya dengan Rp.12.500,- #sodara bisa sampai ke Probolinggo, namun karena terjadi kesalahpahaman antara Faizal dan Uda, #sodara harus membayar lebih. Bus saat itu cukup ramai, bahkan ada penumpang yang berdiri. Dengan bawaan yang tak biasa, setiap orang yang berbincang dengan #sodara akan bertanya “mau ke bromo ya mas mba?”. Semakin intens mendengar pertanyaan seperti itu, maka tandanya Bromo semakin dekat. Yeah!!!. Sekitar pkl.09.15 WIB #sodara sampai di terminal kota Probolinggo.

Setelah istirahat sejenak, #sodara bergegas mencari kendaraan yang membawanya ke Bromo, yah rute yang harus ditempuh selanjutnya adalah Kota Probolinggo-Bromo. Untuk mencapai Bromo dari terminal Kota Probolinggo dapat menggunakan elf, atau warga setempat menyebutnya Bison dengan ongkos Rp. 25.000,-.
Bison, di samping terminal Probolinggo Jatim
Setelah menemukan Bison yang akan ke Bromo dan menaikkan barang bawaan ke atap Bison, #sodara tidak lantas langsung berangkat. Bison baru akan berangkat jika penumpang sudah 10-15 orang. Setelah menunggu sekitar 2 jam, penumpang hanya bertambah 2 orang (1 rombongan), meski sudah cukup lama menunggu Bison tidak pula beranjak karena baru terisi 6 penumpang. #sodara memanfaatkan waktu itu untuk makan dan mencharge HP dan kamera di warung dekat pangkalan Bison.

Mungkin karena sudah frustasi menunggu atau ada keperluan mendesak, rombongan lain (2 orang itu) menawarkan untuk mencarter
Bison saja. Awalnya #sodara cukup keberatan karena untuk menyewa Bison, harus merogoh kocek sampai Rp. 300.000,-/Bison. Tentu angka tersebut terlalu mahal, jadi kalo dihitung-hitung setiap orangnya akan kena ongkos Rp. 50.000,-, hmm jelas diluar jangkauan kantong #sodara. Namun setelah berdiskusi dan negosiasi dengan rombongan lain, mereka setuju untuk mencarter Bison dan masing-masing #sodara hanya membayar Rp. 35.000,-, sisanya ditanggung rombongan lain.

Akhirnya sekitar pkl. 11.20 WIB
Bison yang membawa #sodara ke Bromo meluncur juga. Faizal duduk di depan, di baris ke-dua ada Deddy sendiri, baris ke-tiga ada Uda & Fitri, cuma mereka berdua, dan di baris terakhir diisi rombongan lain. Meski harus melewati jalan yang berliuk-liuk dan tanjakan curam dengan kanan-kiri jurang, perjalanan dengan Bison ini cukup menarik, #sodara disuguhi pemandangan alam yang memanjakan mata, udara yang sejuk dan segar (*goodbye polusi). Sesuatu yang langka dijumpai di kota-kota di Indonesia, termasuk Jogja. Setelah menempuh perjalanan  kurang lebih satu jam, Bison sampai ke tujuan akhirnya, yaitu Taman Nasional Bromo.

Setelah turun,
#sodara langsung dihampiri beberapa orang yang menawarkan penginapan, penginapan yang ditawarkan saat itu berkisar Rp. 150.000,-an per kamar dan dengan letak cukup jauh dari jalur pendakian. Rate tersebut cukup mahal, bahkan naik berkali lipat dari hari biasa. Oh iya, saat itu di Bromo sedang ada acara Road Race, Bromo saat itu cukup ramai, bahkan terlalu ramai untuk suatu objeck wisata alam. Di Bromo, orang yang menawarkan penginapan cukup banyak dengan berbagai macam cara dan mereka “pantang menyerah” dalam menawarkan, bahkan sampai terus-terusan diikuti, seperti yang dialami #sodara. So waspadalah, jangan salah pilih.

Setelah berdiskusi, #sodara memilih untuk menolak tawaran penginapan itu. Disamping terlalu mahal dikantong, #sodara juga bersikukuh dengan konsep backpacker-nya. #sodara putuskan untuk ngecamp. Hal ini sangat aneh dan gila, karena #sodara sama sekali tidak membawa tenda, Deddy hanya membawa Sleeping Bag, Uda dan Fitri masing-masing membawa Sleeping Bag dan Matras, sementara Faizal tidak sama sekali membawa peralatan camping. “biar ada cerita...” ucap Deddy soal keputusan ngecamp ini. Selepas sholat, sekitar pkl 14.00 #sodara memulai perjalanan yang sesungguhnya, menjelajahi Bromo.


Read more

0 Garuda Telah Terbang (part 2)

(Pendakian Gunung Merapi 12-13 Mei 2012)
part 2


(13.45 WIB) Kami menuruni puncak Merapi menuju tenda kami di Pasar Bubrah. Perjalanan turun ini sangat berbahaya, seru dan menyenangkan. Kontras bukan, berbahaya tapi seru dan hepi. Yang berbahaya adalah saat turun, akan dengan sangat mudah batu yang kami pijak jatuh dan menggelinding ke bawah. Dari kerikil hingga batu besar. Setidaknya akan kuceritakan 2 peristiwa tentang batu ini saat kita turun. Pertama adalah aksi heroik dari Helmy, yah dia memang heroik, pahlawan dari Tegal tanpa kenal pegal. Saat itu orang paling depan saat turun adalah Putu, Harlian, Azwar dan disusul Helmy, Dimas serta Faiza berurutan. Seperti yang saya katakan tadi, akan dengan mudah batu jatuh karena kita pijak. Dimas saat itu menginjak sebuah batu tak besar namun tak kecil juga, sebesar kepalan tangan kurang lebih yang tak kokoh tertopang sehingga jatuh dan menggelindinglah batu itu ke bawah, ke arah Helmy dan Azwar yang tepat ada di bawahnya, sepontan kami yang di atas, Aku dan Dimas langsung teriak “awas batu...” syukurlah Helmy mendengar teriakan kami dan bisa menghindar dari jalur jatuhnya batu, tapi Azwar tidak, dia tak mendengar teriakan kami matanya tetap menatap ke bawah tak tahu ada batu yang meluncur ke arahnya tepat mengarah ke bagian kepala. Terbayang dibenakku saat itu, dengan batu sebesar dan secepat itu meluncur, sudah cukup membuat kepala Azwar berlumuran darah syukurlah ada pahlawan muncul disaat dan tempat yang tepat, dengan kakinya, Helmy menghalau batu tersebut persis seperti tendangan voli Zidane ke gawang Bayern Leverkusen saat Final Champion 2002. Gila emang heroik brader kami yang satu ini, sifat pahlawan tak akan muncul begitu saja jika tak dari hati yang penuh kebaikan. Great bro!!!..

Kisah kedua adalah saat kami sudah mencapai titik yang lebih rendah lagi. Dan lagi lagi Dimas. Dimas lagi Dimas lagi. Kini dengan ukuran batu yang jauh lebih besar dan tak mungkin lagi divoli seperti tadi. Kini Dimas berinisiatif turun duluan, so dia mempercepat langkahnya. Dengan langkah yang cepat, tentulah tidak benar-benar bisa memilih pijakan yang aman. Saat itu dia menginjak batu sebesar becak lah kurang lebih. Batu sebesar itu meluncur sangat cepat dan berbahaya, syukur saat itu tidak ada orang di jalur meluncurnya batu itu. Jika ada, entah apa yang akan terjadi aku tak mau membayangkan, hanya Tuhan yang tahu. Sontak gelundungan batu sebesar itu membuat kami kaget, syok, takut dan jadilah kami lebih berhati-hati saat turun. Pelajaran dari peristiwa ini adalah pilih pijakan yang kokoh dalam melangkah, and watch you’r step!!!






Kita tinggalkan yang berbahaya, kita nikmati keseruannya.
Selepas track turun yang penuh dengan batu, kami harus melewati track berpasir menurun yang cukup curam untuk mencapai Pasar Bubrah. Tak ada yang asyik sebenarnya kalau kita melewatinya hanya berjalan saja. Berlari, ya berlari maka akan kau temukan keasyikannya. Dengan kecuraman yang tak biasa, saat kau melewati track berpasir ini. Sekali kau melangkah kan kaki untuk berlari maka tak akan bisa berhenti sampai menemui tanah yang landai. Kalian akan dipaksa berlari dengan kecepatan penuh, jika tidak maka tubuhmu akan tergulung bersama pasir. Lari lah, maka tak akan bisa ngerem, tak tahu ujungnya di mana, tegang, gila dan pada akhirnya kau akan berkata “asyiik juga...”

(14.45 WIB)
Satu jam waktu yang kami butuhkan untuk mencapai tenda kami kembali. Sejenak kami istirahat lalu setelah seluruh perlengkapan telah siap dan area camp kami telah bersih, kami bergegas turun gunung sekitar pukul 15.15 WIB.

Pasar Bubrah, sebelum beranjak pulang...Backgroun Puncak Merapi!!!
Himbauan untuk ku dan kalian yang akan menaklukan gunung manapun, berterimakasihlah karena telah menyuguhkan perjalanan dan pemandangan yang luar biasa minimal dengan tidak mengotorinya dan menjaganya tetap bersih dan asri.
Narsis sebelum turun boleh toh...Background Gunung Merbabu





Kami turun melalui jalur yang sama saat naik, kita berusaha tetap bersama dan melangkahkan kaki lebih cepat dengan harapan terhindar dari gelap gulita malam saat turun.

(18.00 WIB) Kami sampai New Selo, dan istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Base Camp.

(18.40 WIB) Dengan diiringi rintikan hujan yang memaksa kami bergerak lebih cepat, akhirnya kami sampai di Base Camp juga. Setengah jam kami habiskan waktu di Base Camp untuk istirahat dan bersiap pulang ke Jogja.

(19.10 WIB) Kami ceck out dari Base Camp Merapi, menulusuri jalanan beraspal dengan pancaran cahaya bulan dan kemilau bintang menemani perjalanan kami menuju Jogja tercinta.

(21.00 WIB) Dengan mengucap syukur kepada Tuhan yang Maha Esa akhirnya kami sampai juga di Jogja yang memang istimewa ini dengan selamat dan membawa semangat. “Jogjaaaa....!” teriakku dalam hati.

Alhamdulillah, terimakasih penuh tulus dan rasa syukur aku panjatkan kepadaMu Tuhan, atas karunia alam negeri ini yang begitu indah dan istimewa, terimakasih telah melindungi kami dalam perjalanan pendakian Gunung Merapi hingga selamat dan membawa semangat, semoga Engkau berkahi, terimakasih telah Kau teguhkan hati kami dalam menggapai puncak tertinggi Gunung Merapi. Dan terimakasih untuk kalian yang telah menjadi bagian dalam perjalanan ini Dimas, Helmy, Harlian, Putu, dan Ajwar. Semoga menjadi perjalanan dan pengalaman yang bermakna.

Aku Cinta kamu, Indonesia!!!

Liat Part1..
Read more

0 Garuda Telah Terbang (part 1)

(Pendakian Gunung Merapi 12-13 Mei 2012)
part 1 

“Puncak Garuda udah terbang mas...” jawab salah seorang dari rombongan pendaki lain saat aku baru saja sampai puncak Merapi dan bertanya padanya “inikah puncaknya?”. Sampai sekarang aku kadang masih gak ngerti sama jawaban tersebut. Mungkin yang dia maksudkan adalah Puncak Garuda yang merupakan puncak tertinggi dari Gunung Merapi (Jawa Tengah). Namun sayang puncak itu tak dapat didaki karena rusak akibat letusan Gunung Merapi 2010 silam.
Puncak Merapi begitu hebat, menyuguhkan pemandangan yang luar biasa, tak henti-hentinya aku mengucap syukur dan kagum kepada Tuhan atas keindahan ciptaanNya. Segerombolan awan putih yang menghiasi langit biru, Gunung Merbabu, Kota Ambarawa dan Jalur Pendakian adalah beberapa pemandangan yang senantiasa buatku takjub, sayang saat itu kawah Gunung Merapi tidak dapat terlihat, karena tertutup kabut yang tebal. Tapi keindahan yang terhampar dari atas Puncak Merapi cukup mengobati rasa lelah dan letih selama pendakian. Tak dapat aku gambarkan betapa indahnya pemandangan saat itu, bahkan jepretan foto pun tak akan berbicara banyak. Keindahan itu tak dapat aku nikmati dengan mudah, perlu pengorbanan dan perjuangan.
Aku (red- Faizal) bersama 5 orang teman-teman jurusanku, Dimas, Helmy, Putu, Harlian dan Ajwar memutuskan untuk mendaki Gunung Merapi demi mengisi waktu luang akhir pekan dan juga mengobati rasa rindu kami akan alam negeri ini. Kami adalah mahasiswa Teknik Elektro UGM Yogyakarta. Satu angkatan, satu konsentrasi dan satu tujuan (saat itu) menaklukan Puncak Gunung Merapi. Dengan membawa Tenda, Kompor, Peralatan Masak, Perlengkapan Makan, Bahan Makanan, Tas Carier, Matras, Senter, Minum, dan perlengkapan pribadi, kita berangkat melakukan pendakian.

Sabtu, 12 Mei 2012
(08.15 WIB) Dengan menggunakan 3 Sepeda Motor, kami berangkat dari Jogja menuju base camp pendakian Gunung Merapi yang ada di Selo, Boyolali. Perjalanan Jogja – Selo kami tempuh sekitar dua jam.

(10.15 WIB) Setelah menyusuri jalan raya Magelang dan Kabupaten Magelang yang dipadati kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, kami memasuki jalanan naik-turun dan juga berkelok guna mencapai Selo Boyolali. Sekitar pukul 10.15 WIB kami sampai Base Camp Pendakian Gunung Merapi. Di base camp kita berjumpa dengan pendaki lain yang sudah melakukan pendakian maupun yang akan melakukan pendakian seperti kami.





Setibanya di Base Camp kami manfaatkan untuk istirahat, makan, dan persiapan untuk melakukan pendakian. Dan kepanikan terjadi di sini, bukan karena Merapi erupsi atau jalur pendakian ditutup, tapi karena Kamera yang kami bawa (*punya Dimas) tidak ada memorinya. Lupa, tertinggal dan itu sangat fatal, apa gunanya kamera kalo tanpa memori. “No Pict, Hoax..” seru Ajwar, “lebih baik batal naik kalo gak ada kamera & memori” lanjutnya. Dalam keadaan itu kita mencoba tenang dan mencari solusi terbaik, ada 3 solusi yang muncul saat itu, 1. Kami meminjam memori ataupun adapter ke pendaki lain  atau warga sekitar, 2. Turun ke Magelang untuk beli adapter dan 3. Balik ke Jogja untuk ambil memorinya. Kami sungguh beruntung saat itu, ada warga sekitar yang juga pecinta alam mempunyaI adapter dan mau meminjamkannya kepada kami. Masalah kamera terselesaikan.

(11.45 WIB) Dengan istirahat yang cukup dan persiapan lengkap serta tak lupa kita membawa bekal Nasi Telor dari Base Camp untuk makan nanti, sekitar pukul 11.45 WIB kami memulai pendakian setelah sebelumnya diawali dengan Do’a dan foto bersama. Seperti pada pendakian Gunung pada umumnya, track awal akan terasa berat dan banyak pendaki yang menyerah di sini. Track awal pendakian dari Base Camp berupa jalanan aspal yang naik dan cukup terjal dapat membuat pendaki kepayahan.
Base Camp, start from here...
(12.15 WIB) New Selo, seperti sebuah gardu pandang. Di sini berjejer warung-warung makanan dan minuman ringan milik warga sekitar yang siap mengantar pendaki memulai pendakian dan menyambutnya kembali. New Selo merupakan akhir dari jalanan aspal dan awal dari jalanan setapak yang membelah Gunung Merapi.  Di sini kami sempatkan istirahat dan foto-foto sejenak serta menikmati pemandangan Gunung Merbabu. Yah saat itu dari sini kami dapat dengan jelas melihat kemegahan gunung Merbabu.
New Selo, Background Gunung Merbabu....




Pendakian berlanjut, dari New Selo kami menyusuri jalanan setapak menanjak dengan kanan-kiri jalan dihiasi perkebunan warga. Sepanjang perjalanan membelah perkebunan warga ini, Ajwar yang baru pertama kali naik gunung nyaris menyerah dan turun kembali ke Base Camp. Dengan segala daya upaya, aku, Dimas, Helmy, Putu dan Harlian membujuk dan menyemangatinya untuk terus melanjutkan pendakian hingga akhirnya Ajwar bersedia melanjutkan pendakian. Kami bersama mendaki, maka kami harus bersama menaklukan puncaknya.
Selepas dari perkebunan warga, kami memasuki Hutan Gunung Merapi yang ditumbuhi pepohonan yang cukup rindang sehingga membuat pendakian kami cukup nyaman. Tracknya tidak jauh berbeda namun semakin naik, semakin curam.

(13.25 WIB) Setelah memasuki Hutan Gunung Merapi, sekitar pukul 13. 25 WIB pada ketinggian 2175mdpl, kami menemui persimpangan dua jalur pendakian. Dan menurut pendaki lain, persimpangan tersebut memisahkan jalur Kartini (ke kiri) dan Jalur Utama (ke kanan). Jalur Kartini di kenal lebih landai namun memutar sehingga memerlukan waktu lebih lama, sedangkan jalur utama dapat ditempuh lebih cepat, namun tracknya terjal dan curam. Kami putuskan untuk lewat jalur utama, dengan pertimbangan waktu tempuh yang lebih pendek. Track jalur utama ini didominasi oleh jalanan menanjak berupa tanah, kerikil dan bebatuan sehingga memerlukan kewaspadaan ekstra.




(14.50 WIB) Kami menjumpai tanah yang cukup lapang dan terdapat batu besar di tengah jalur pendakian. Kami beristirahat sejenak dan sholat. Ada sebagian pendaki yang menyebutnya pos 1, namun setelah kita perhatikan tidak ada tanda plang bertuliskan Pos 1 atau tanda khusus yang menunjukkan itu Pos 1. Entahlah apakah itu benar pos1 atau bukan.

(15.15 WIB) Pendakian kami lanjutkan kembali, menyusuri jalur pendakian yang semakin sulit. Jalanan berkerikil, bebatuan menanjak dengan kemiringan sampai 45 derajat adalah track yang harus dilalui untuk mencapai puncak Merapi. Semakin tinggi, jalur pendakian yang harus dilewati semakin sulit. Itulah tantangan yang harus kami hadapi, semangat dan tekad yang kuat adalah modal utama dalam pendakian. “..yang penting tuh tekad!!!” seru Helmy. Menurutnya, untuk mencapai puncak tertinggi, tekad adalah kekuatan tertinggi untuk menggapainya.

Sebelum sampai tempat
ngecamp(mendirikan tenda) kami disuguhi pemandangan yang luar biasa dan mungkin hanya bisa dinikmati dari tempat itu saja, Sunsite. Proses kembalinya sang mentari ke peraduannya menampilkan pemandangan yang luar biasa. It’s so beautifull.
sunsite cing...




(17.30 WIB) Sebelum mentari benar-benar kembali keperaduannya, kami telah sampai di tempat ngecamp, Pasar Bubrah namanya. Dibalik sebuah batu besar kami mendirikan tenda, dengan harapan lebih terlindungi dari terpaan angin kencang. Hari mulai gelap dan dengan waktu yang tidak begitu lama tenda tempat berteduh kami berdiri dan siap dihuni.
Pasar Bubrah adalah sebuah padang luas yang hanya berisi pasir, kerikil, hingga bebatuan besar, tanpa ada tanaman maupun sumber air. Pasar Bubrah adalah salah satu tempat favorit bagi pendaki untuk mendirikan tenda, disamping kontur permukaannya yang cocok untuk didirikan tenda, juga jaraknya yang dekat dari puncak Gunung Merapi, sekitar 45 menit pendakian. Sejujurnya meski mungkin orang lain melihat pasar Bubrah sebagai tempat yang seram, bagiku pasar Bubrah juga menyuguhkan pemandangan yang luar biasa, meski hanya berisi bebatuan dan pasir. Tapi perpaduan dan keharmonisan letak mereka menciptakan kesan yang indah, setidaknya bagiku.

(Malam Mingguan euy..) Bulan mulai menyapa dan mentari telah kembali ke peraduannya. Hari yang semakin gelap, tidak banyak aktivitas yang kami lakukan di luar tenda, kami lebih banyak menghabiskan waktu di dalam tenda, selain kondisi fisik yang lelah dan memerlukan istirahat, juga karena angin yang berhembus cukup kencang. Saat yang lain beristirahat di dalam tenda, Aku dan Dimas keluar, Bintang berkilauan menghiasi langit yang luas menemani rembulan dan gemerlap lampu kota Ambarawa begitu sayang untuk dilewatkan. Tidak lama aku dan Dimas di luar tenda selain angin yang memang sangat kencang dan udara dingin mulai metusuk juga karena tubuh ini butuh istirahat untuk pendakian esok.
Minggu, 13 Mei 2012

(04.45 WIB) Menjelang sang fajar muncul dan waktu subuh tiba, Pasar Bubrah diselimuti kabut tebal yang membawa embun-embun pagi disertai angin kencang dan kadang hujan turun. Keadaan seperti itu berlangsung cukup lama, sehingga memaksa kami berdiam diri di dalam tenda tak bisa menikmati suasana pagi dan sunrise. Cuaca yang kurang bersahabat cukup membuat kami bosan berdiam diri di dalam tenda. Untuk mengusir kebosanan tidak banyak yang bisa kami lakukan, hanya bernyanyi yang mungkin kami lakukan. Dari lagu khas pendakian, Soe Hok Gie you know kan?, lagu nusantara, lagu luar dengan bahasa inggris hingga lagu yang lagi ngetren saat itu, lagu-lagu korea. Dan jagoan karoke dalam tenda itu adalah Harlian, apalagi kalo lagu-lagu korea haha.

(08.30 WIB) Ketika waktu mulai beranjak siang, cuaca Pasar Bubrah Gunung Merapi mulai cerah bahkan kadang kami dapat melihat puncak Merapi dari samping tenda.
Kami senang kegirangan karena dapat keluar dari tenda dan dapat melakukan aktivitas yang kami inginkan, kayak anak kecil yang dikasih gulali sama pamannya. Saat itu kami manfaatkan untuk memasak, sarapan, dan beres-beres.




(11.00 WIB) Baru sekitar pukul 11 siang kami beranjak dari tenda untuk melakukan pendakian ke puncak Merapi. Seluruh barang bawaan kami tinggal di tenda bahkan kami lupa membawa air minum, hanya kamera dan pakaian yang melekat di badan yang kami bawa dalam Summit Attack. Tidak ada rasa takut kehilangan barang yang kami tinggalkan di tenda saat summit attack, tahu kenapa? Kami yakin tidak akan mungkin ada pencurian di atas gunung, karena kita saudara, dan sesama pendaki adalah saudara, yang saling menjaga dan memberi. Bukan saling mencaci dan mencuri. Yah sekali lagi, karena kita saudara.



Summit Attack ini sangat menguras tenaga dan konsentrasi. Track pendakian dari Pasar Bubrah cukup sulit untuk ditaklukan karena memiliki kemiringan 60 derajat hingga 70 derajat(mungkin) ditambah jarak pandang yang hanya sekitar 10 m karena terselimuti kabut. Cukup terjal dan curam. Track didominasi oleh pasir, kerikil dan bebatuan. Track pasir dan kerikil cukup sulit kami taklukan karena pijakan yang tak kuat buat kami mudah terpeleset. Sementara track bebatuan cukup membuat kami berhati-hati dan perlu kewaspadaan ekstra, karena bebatuan dapat sewaktu-waktu berjatuhan dari atas bahkan batuan yang kami pijak pun dapat dengan mudah jatuh ke bawah. Hal tersebut cukup berbahaya karena ukuran batu yang jatuh dapat menyebabkan luka bahkan kematian jika terkenanya. Untuk mengatasi hal tersebut, para pendaki harus memberitahu pendaki di bawahnya ketika ada batu yang jatuh, dengan berteriak “Awas Batuu..!” atau “rock!!!”.
Jika cuaca cerah dan kabut menghilang, saat summit attack pemandangan yang luar biasa akan terhampar jelas dan indah. Kokohnya Gunung Merbabu dengan alam yang menyelimutinya, kota Ambarawa yang teduh dan langit dengan hiasan awan putih cukup mengobati keletihan dan memompa semangat kami untuk segera mencapai puncak Merapi.




Tidak ada track pasti dari pasar Bubrah ke puncak Merapi, kami hanya mendaki mengikuti bekas aliran air dengan bermodal insting dan semangat. Orang paling depan dalam summit attack ini adalah aku, Faizal, yang bertugas menentukan jalur pendakian dan yang paling terakhir adalah Dimas, sebagai sweeper agar tidak ada yang tertinggal dari rombongan.

(12.45 WIB)
Setelah melewati pendakian yang sulit dan melelahkan, akhirnya teriakan PUNCAAAK!!! Pun terdengar dan kami dapat mencapainya dengan selamat. Dari ketinggian 2965mdpl (Puncak Merapi) kami dapat menikmati pemandangan yang luar biasa dan sudah cukup mengobati rasa lelah kami. Goresan awan putih menghiasi langit biru indah tak terelakkan. Hamparan Pasar Bubrah tersuguh jelas penuh bebatuan yang cadas indahnya. Kota Ambarawa terlihat rapi dan tenang dari keheningan puncak Merapi. Namun sayang, kawah merapi enggan muncul terselimuti tebal kabut putih. Kami tak hanya berada di puncak Merapi yang gagah tak terelakkan tapi kami juga berada di atas awan. Indah dan kagum tak pantas rasanya mendeskripsikan pemandangan saat itu. Oh God I Love Indonesia.
“1...2...3... puncaaaak” serentak kami berteriak seolah melepas semua beban, penat dan lelah. Nikmat rasanya. Tak peduli apa kata pendaki lain melihat kelakuan kami tersebut, itu adalah tradisi bagi kami, luapan emosi setelah melalui perjuangan panjang untuk mencapai titik tertinggi, dan itu senantiasa kami lakukan di setiap puncak yang kami taklukkan. Tak lupa kita abadikan suasana saat itu dalam jepretan kamera. Setelah puas, kamipun bergegas untuk turun dan pulang.
Di atas awan bro...goyang dulu ah!!!
Read more

1 Aku, Jeda dan Mimpi


Siapa aku? berdasarkan akta kelahiran namaku Akhmad Faizal Khabibi, padahal sebenarnya nama “original”ku adalah Ahmad Faiz Al Habibi. Terlahir dari pasangan Guru Sekolah Dasar di sebuah Desa pinggiran Kabupaten Cirebon, 11 April 1991 silam. Betapa bersyukurnya aku dilahirkan dalam keluarga yang tak hanya penuh kehangatan kasih sayang, namun juga begitu perhatian dalam bidang pendidikan. Ibuku adalah ibu bagi seluruh anak-anak desa Guwa Kidul dan Ayahku adalah bapak bagi seluruh anak-anak desa Guwa Lor. Yah dulu ayahku sebelum beralih tugas menjadi Kepala Desa, beliau mengabdikan diri sebagai salah satu guru Sekolah Dasar di Desa Guwa Lor, saudara muda dari desa kelahiran dan tempat tinggalku Guwa Kidul. Kini beliau telah pensiun dan menghabiskan masa senjanya bersama cucu-cucunya yang lucu. Ibuku, ibu tercantik di seluruh dunia ini kini diberi amanah menjadi Kepala Sekolah di salah satu Sekolah Dasar di desa Guwa Lor, desa tempat ayahku dulu mengabdi, namun berbeda sekolah. Oh iya, kini aku mempunya 2 orang kakak yang telah menikah dan dikaruniai anak yang lucu, dan seorang adik yang sedang merintis kejayaan masa remajanya di pesantren.

Itulah secuil tentang keluargaku yang menaruh pendidikan sebagai salah satu porsi terbesar dalam perhatiannya. Pendidikan adalah pondasi segalanya, termasuk mimpi-mimpiku. Mimpiku muncul karena pendidikan. Karena pendidikanlah aku bisa baca, tulis, dan hitung. Karena pendidikanlah aku keluar dari tempurung, bermula dari menyibak uniknya Kecamatan Gegesik (SMP N 1 Gegesik), lalu menengok ramainya Kota Cirebon (SMA 2 Cirebon) dan merasakan nyamannya Yogyakarta (UGM) serta indahnya negeri ini, entah tanah mana lagi yang akan aku pijak.

Aku begitu percaya akan kekuatan mimpi, yah mimpi lah modal utama bagiku dalam mengarungi hidup. Karena mimpi lah aku tahu ke mana aku harus melangkah, karena mimpi lah aku tahu ke mana aku harus tebarkan pandangan dan fokus, karena mimpi lah aku tahu harus menjaga kepekaan pendengaranku, karena mimpi lah aku berani membiarkan tubuh dan tangan ini menahan pilu demi tercapainya kepuasan hati.

Tentu saja setiap manusia berhak bermimpi, apapun itu, sebesar apapun itu, tak ada yang melarang apalagi membatasi. Namun kadang diantara kita masih saja ada yang takut bermimpi, padahal itu gratis dan gak ada yang salah.
”..bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu...”-Sang Pemimpi-
Entah apa anggapan kalian tentang diriku yang penuh mimpi. Yang jelas ku mempunyai banyak mimpi-mimpi, untuk diriku, agamaku, keluargaku, bangsaku dan juga bumi yang kita tinggali ini. Biarlah mimpi-mimpiku menjadi rahasiaku, Dia dan mereka saja.

Saat kamu berani bermimpi, maka kamu telah berani untuk hidup. Lantas pertanyaan berikutnya adalah, apa yang kita lakukan setelah bermimpi? Tentu berani bermimpi adalah langkah tepat namun bukan lah akhir segalanya, justru itu adalah awal segalanya. Aku yakin semua orang ingin mimpi-mimpinya dapat terwujud, namun tak semua orang yang mau mimpi-mimpinya terwujud. Mereka yang hanya ‘ingin’, cenderung membiarkan hidupnya mengalir saja seperti air, dan mimpinya tetap jadi mimpi. Tapi bagi mereka yang ‘mau’, dia akan berjuang sekeras mungkin untuk mewujudkannya, dan aku yakin mereka yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasil yang setimpal.

Aku adalah Pejuang Mimpi, bukan hanya sekedar pemimpi. Aku yakin mimpi hanya akan terwujud jika kita memperjuangkannya. Tidak mudah itu pasti, sulit itu niscaya tapi semuanya itu mungkin. Batu saja bisa berlubang karena lembutnya tetesan air. Perjuanganku tak akan pernah berhenti hingga ku beralih ke alam lain, bahkan jeda meninggalkan perjuangan ini pun tak akan pernah terjadi. Kita harus tetap berjuang apapun yang terjadi.

Teruslah bermimpi, tetaplah berjuang dan tiadakan jeda sedikitpun dalam perjuangan ini.
Salam Pejuang Mimpi
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 
© Pejuang Mimpi | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger